Minggu, 03 Mei 2015

Legenda Manten Kucing






Ritual manten kucing sebenarnya sudah ada sejak puluhan tahun silam. Tradisi tersebut pertama kali muncul di Desa Pelem, Kecamatan Campurdarat, Kabupaten Tulungagung. Ritual manten kucing dilaksanakan sebagai sarana untuk memohon hujan.“Dulu di Desa ini pernah terjadi kemarau panjang, dan setelah  ritual memandikan Kucing,  hujanpun turun dari langit, entah itu kebetulan ataukah karena ritual itu tetapi masyarakat setempat meyakini bahwa hujan tersebut karena hasil dari ritual mereka.
Arti ritual manten kucing itu bukan berarti menikahkan seekor kucing, tetapi memandikan seekor kucing di Tlaga yang disebut Tlaga Buret,  dikisahkan  asal muasal ritual manten kucing itu mempunyai sejarah panjang, yang hingga sekarang masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Dahulu, di Desa Pelem hidup seorang Demang yang dikenal dengan sebutan Eyang Sangkrah. Ia adalah sosok linuwih dalam ilmu kejawen. Eyang Sangkrah memiliki seekor kucing condromowo (bulunya tiga warna) jantan dengan sepasang mata istimewa, diawali kira kira  tahun 1928, terjadi kemarau panjang hingga terjadi kelanggkaan air, Eyang Sangkrah selaku pemimpin Desa  merasa bertanggungjawab atas nasib penduduknya, Eyang Sangkra merasa kehabisan cara, dan dalam kebingungan itu  Eyang Sangkrah mandi di telaga, sahat mandi kucing jantannya ikut mandi, anehnya begitu kucing tersebut berguyur air tak lama kemudian hujan turun dari langit  dan semenjak peristiwa itu  masyarakat setempat  meyakini  dan melestarikan ritual manten kucing

Seiring perkembangan zaman dan bergantinya generasi, masyarakat setempat menamakan ritual tersebut sebagai manten kucing. Agar suasana lebih meriah, biasanya, masyarakat menambahkan kesenian lokal, seperti tiban, jidor, dll
Dari Tradisi yang sebenarnya akirnya berubah menjadi penerapan yang salah, dimana ada yang melakukan Maten kucing dilengkapi dengan kembarmayang sekaligus penghulu hal inilah yang dikecam MUI karena dianggap melukai hati orang Islam dan berbau Syirik
Jika para pelestari budaya kembali ke sejarah asal muasal Budaya manten Kucing maka tidak akan ada sorotan keras dari MUI, jikalau para pelestari budaya juga bersedia mengganti nama Manten Kucing dengan nama asalnya yaitu Ngedus Kucing, mungkin suasana akan menjadi lebih damai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar